Mengikis Budaya Konsumtif PNS

Perilaku konsumtif puasa sudah menjadi budaya tahunan. Pasalnya, di bulan puasa dari tahun ke tahun justru keinginan konsumsi masyarakat meningkat dibandingkan hari-hari biasanya. Hal ini juga dialami PNS, khususnya PNS perempuan. Ada hipnotis konsumsi yang secara tidak sadar melekat pada masyarakat dari kalangan elit sampai kalangan bawah. Kadar konsumtifnya pun berbeda. Semakin tinggi status sosial masyarakat semakin beraneka ragam pula tingkat konsumtifnya. Seperti membeli mobil mewah untuk mudik ke kampung, mengenakan perhiasan baru, serta pembelian pakaian bermerk mahal.

Hal ini berbeda dengan gaya konsumerisme golongan menengah ke bawah. Pada golongan menengah ke bawah tingkat konsumtif baru sebatas keinginan konsumsi makanan enak setiap harinya. Sehingga seakan jam berbuka puasa menjadi saat pelampiasan setelah berjam-jam mereka menahan lapar dan haus.

Fenomena ini tidak lepas dari pengaruh media massa yang setiap saat menayangkan produk-produk bertema Ramadan. Seperti produk sirup, mukena, jilbab, dan makanan ringan, paket takjil, ifthar, paket Ramadan dan sebagainya. Melalui produk-produk itu kalangan elit mulai menebarkan benih-benih kapitalisme untuk meraup keuntungan.

Kondisi masyarakat Indonesia yang labil memang sangat mudah dipengaruhi. Apalagi oleh produk-produk baru yang murah dan mudah dijangkau. Namun tidakkah disadari bahwa ini merupakan bagian penjajahan selama Ramadan? Bulan yang seharusnya penuh pengendalian diri dari lapar, haus, dan hawa nafsu justru sebaliknya.

Pergeseran

Hakikat puasa bagi umat Islam perlu diluruskan. Memang tidak bisa dipungkiri puasa dapat meningkatkan perilaku konsumtif. Tapi perilaku konsumtif seperti apa yang dimaksudkan? Bulan Ramadan seharusnya mampu menggugah semangat berbagi sedekah, zakat dan wakaf. Jadi perilaku konsumtif di bulan Ramadan sebenarnya bukan untuk kepentingan sendiri melainkan untuk kepentingan orang lain. Artinya, dengan berbagi esensi Ramadan akan semakin terasa. Tidak sekadar berbelanja dengan maksud riya’ (pamer).

Bentuk nyata produk kapitalisme di bulan Ramadan salah satunya adalah semakin sepinya tempat ibadah dan semakin ramainya tempat belanja. Masyarakat semakin enggan beribadah di masjid dengan berbagai alasan. Mereka justru sibuk membuat daftar belanja untuk kebutuhan Lebaran daripada menyibukkan diri beribadah. Bahkan ketika puasa baru beberapa hari dilaksanakan, kue-kue dan pakaian Lebaran sudah disiapkan.

Di Indonesia, Lebaran tidak hanya sebatas peristiwa keagamaan tetapi lebih pada peristiwa budaya dan tradisi. Budaya baju baru, sepatu baru, tas baru, kendaraan baru, perhiasaan baru dan item duniawi lainnya. Hal ini tentu berbelok dari hakikat puasa yang sebenarnya. Membendung budaya konsumtif ketika puasa memang tidak mudah, tapi mengikisnya adalah kewajiban, apalagi bagi perempuan sebagai mengelola keuangan  rumah tangga.

 Peran perempuan sebagai ibu dan istri sangat penting dalam upaya mengikis budaya konsumtif Ramadan. Pasalnya selama ini perempuan justru sebagai pelaku atau subjek konsumen itu sendiri. Maka, cara mendangkalnya adalah mengubah mindset para kaum hawa untuk “mengerem” keinginannya untuk membeli barang-barang yang tidak penting.

Mengikis

Pertama, menyusun menu buka dan sahur ketika puasa. Perilaku konsumtif yang berlebihan sering terjadi ketika seseorang tidak memiliki tujuan yang jelas dalam kebutuhan  sehari-hari khususnya makan. Tidak dipungkiri ketika seorang perempuan ingin membeli “sawi” bisa jadi beranak menjadi “wortel” padahal belum tahu akan diolah menjadi apa. Maka dari itu, dengan membuat susunan menu makanan yang jelas, daftar belanja pun menjadi lebih terarah. Paling tidak hal ini dapat menjadi pagar ketika berbelanja.

Kedua, merawat barang-barang yang masih dianggap layak untuk digunakan di Hari Raya. Perilaku konsumtif secara berlebihan sering terjadi pada barang-barang tersier. Misal seseorang masih memiliki sandal yang bagus karena stigma lebaran harus “serba” baru maka terjadi pembelian sandal menjelang lebaran.

Tidak hanya sandal, masih banyak barang-barang lainnya seperti kendaraan yang dimodif sedemikian rupa agar terlihat mewah ketika digunakan silaturahmi ke rumah sanak saudara. Secara tidak langsung hal ini menimbulkan perilaku boros dan riya’. Padahal hakikat puasa sesungguhnya mengajarkan kesederhanaan dan tidak berlebihan.

Ketiga, mengartikan istilah konsumtif sebagai alat untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Perilaku konsumtif Ramadan diartikan sebagai momen yang tepat untuk membeli berbagai barang kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan minyak untuk dibagikan kepada sesama. Sebagai orang yang dianggap mampu sudah layaknya membagikan harta yang dititipkan Tuhan untuk saudara-saudara yang kurang beruntung. Orang yang berada dalam status menengah ke bawah sangat memerlukan empati dari orang-orang dermawan khususnya di bulan yang penuh berkah.

Pemerintah diharapkan juga mampu sebagai garda depan. Apalagi kondisi seperti ini sangat mempengaruhi keadaan perekonomian di Indonesia. Inflasi sudah jelas terjadi. Begitu pula dengan kenaikan berbagai macam harga. Sebagai pemegang kekuasaan dan kebijakan pemerintah harus turun di lapangan agar perekonomian bisa tetap terkontrol. Jangan sampai masyarakat kecil justru menjadi korban kaum elit bermodal besar. Para sosialita istri-istri pengusaha dan pejabat juga tidak selayaknya menjadikan area perbelanjaan menjadi show room mobil-mobil mewah.

Puasa adalah ajang berlatih hidup sederhana. Artinya, tidak ada budaya mengada-adakan makanan yang biasanya tidak ada. Hal tersebut dapat memacu seseorang untuk bergaya konsumtif. Oleh karena itu konsumerisme sudah selayaknya diperangi mulai dari sekarang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Semoga puasa tahun depan bisa lebih baik lagi.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *