Surabaya Kekurangan Dokter Spesialis dan Guru

Rencananya akhir Agustus ini walikota Surabaya Tri Rismaharani akan mengundurkan diri. Sebelum mengundurkan diri, walikota teladan yang biasa dipanggil Bu Risma itu curhat ke MenpanRB Yuddy Chrisnandi. Pasalnya, beliau mengungkapkan bahwa Surabaya kekurangan tenaga dokter spesialis dan pendidik berkualitas. Kekurangan dua formasi ini sangat mempengaruhi pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Padahal menurut beliau pelayanan prima kepada publik adalah hal yang sangat penting. Beliau ingin urusan kepegawaian bisa segera beres sebelum beliau mengundurkan diri dari jabatannya.

Menurut Bu Risma dalam pertemuannya dengan Menteri Yuddy, selama ini banyak dokter spesialis dan psikiater di Surabaya memilih kerja di luar kota. Mereka bekerja di luar daerah Surabaya sehingga walikota mengambil dokter spesialis dan tenaga medis lainnya dari kabupaten lain. Kuota kekurangan tenaga dokter spesialis sekitar 2.000. Sebenarnya walikota tangguh ini berharap banyak warga Surabaya mau mengabdikan dirinya di kota sendiri. Kurang baik jika banyak mengangkat pegawai dari luar kota. Mengingat Surabaya memiliki kualitas pendidikan dan SDM yang cukup baik dibandingkan daerah lain.

Selain tenaga medis, Bu Risma juga ingin banyak mengngkat guru SD. Menurut Bu Risma jumlah guru SD masih sangat kurang mengingat banyaknya tenaga honorer dan pegawai kurang berkualitas. Pegawai yang berkualitas merupakan dambaan Bu Risma selama ini. Pegawai yang tidak bisa menjadi teladan tidak patut menggandeng status ke-PNS-annya.

Dari hasil curhatan Bu Risma terhadap Menteri Yuddy ternyata mendapat tanggapan positif. Tenaga pendiidk dan tenaga medis merupakan dua formasi yang tidak tersandung moratorium. Jadi Bu Risma tidak perlu khawatir atas pemenuhan kebutuhan pegawai. Selain itu, banyaknya tenaga honorer juga menjadi perhatian menteri Yuddy. Pasalnya, menteri Yuddy akan menyiapkan paying hukum yang jelas agar para tenaga honorer itu memperoleh balasan yang layak atas pengabdiannya selama ini.

Menurut Menteri Yuddy diasumsikan banyaknya tenaga spesialis yang enggan menjadi PNS tidak hanya terjadi di Surabaya. Banyak tenaga dokter spesialis yang lebih memilih kerja di instansi swasta karena tunjangan di swasta lebih tinggi dibandingkan negeri. Maka tidak dikagetkan jika jumlah tenaga spesialis di rumah sakit negeri kurang. Padahal baik negeri maupun swasta sama-sama membutukan tenaga spesialis untuk membantu pasien-pasien yang memerlukan pertolongan.

Curhatan Walikota Risma kepada Menteri Yuddy bisa menjadi pembelajaran bagi kepala daerah yang lain bahwa komunikasi memang sangat penting. Dengan komunikasi kepala daerah dapat mengungkapkan kegundahan terkait kepegawaian yang belum beres. Bisa jadi dengan mengkomunikasikan salah satu masalah kepegawaian (pengangkatan PNS) dapat terselesaikan.

Kondisi kekurangan tenaga medis dan pendidik di Surabaya bisa ditanggapi positif oleh rekan-rekan yang memiliki kualifikasi akademik lulusan kedokteran dan guru. Rekan-rekan yang berminat dapat menyiapkan diri untuk mendaftar seleksi CPNS kota Surabaya.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *